Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 26

Senja


Senja sore itu menghilang. Langit birupun tertutup awan. Aku mengambil foto senja yang tak secerah biasa. Warnanya yang kuning keemasan terpantulkan oleh biru air laut. Riak air menambah cantik senja. Bukit barisan di seberang laut dan pohon-pohon hijau bagai lukisan. Sebuah kapal berlayar menerobos gelombang lautan. Suara mesin menderu terdengar samar ditelingaku. Sang saka merah putih berkibar di sebuah tiang yang tegak berdiri di atas kapal. Beberapa orang melambaikan tangan kearah kami. Kami membalas lambaian tangan mereka.

Aku sedari datang duduk di sebuah gubug tua sembari menikmati pemandangan pelabuhan kecil yang konon kan dijadikan sebagai pelabuhan lintas Kalimantan berjalan menuju motor air yang berlabuh di pelabuhan.
”Boleh dong minjam pancingnya…” pintaku pada seorang pemuda yang tengah memegang dua tangkai pancing.
“Tentu.” Dia memberikan sebuah pancing untukku.
“Uups… ini umpannya.” Tambahnya dan memberikan sebuah toples berisi tanah hitam dan tentunya ada beberapa cacing yang bersemayam didalamnya.
Kubuka tutup toples. Ku korek tanah hitam mencari keberadaan sang cacing-cacing. Aku yang memang seorang anak desa tak merasa jijik sedikitpun dengan tanah hitam dan cacing yang bergeliat didalam toples. Sayang, cacing-cacing itu tak lagi segar. Bagai hidup segan mati pun tak mau. Sangat lemah, yang mungkin bisa mengurangi nafsu makan ikan-ikan dilaut saat melihat cacing yang melilit pancing aku. Aku pun mulai menusuk mereka dengan pancing yang kan kugunakan untuk memancing. Uuh... kalo aku jadi mereka sungguh mati pasti aku menjerit sakit tak karuan saat aku harus bergelut antara hidup dan mati.


Sambil menunggu ikan yang kan menjadi umpan pancing, aku mendengarkan teman aku bercerita mengenai nasib pelabuhan kecil di desa ini pada masa yang akan datang. Kebetulan dia adalah anak dari ketua forum pembentuk pelabuhan lintas Kalimantan ini. Tentu sangat membutuhkan proses panjang. Karena jalan setapak sejak setahun lalu belum juga berubah. Dikelilingi oleh pohon-pohon nipah dan parit selebar dua meter yang biasa dilewati perahu kecil milik warga desa Masbangun. Jalan setapak juga hanya bisa dilewati kendaraan beroda dua dan pejalan kaki.

Senja yang semula menguning, semakin gelap menuju peraduannya. Nyamuk kecil atau biasa di panggil kremut menyerubut kulitku.
"Mungkin aku orang baru. Jadi rasanya lebih manis dan mereka pada suka" Selorohku pada temanku. Teman dan orang yeng berada di motor tertawa geli melihat tingkahku yang berjungkat-jungkat menahan gatal karena gigitan kremut.
Aku mengulurkan tangan. Mengembalikan pancing yang aku pinjam. " Makasih ya..."
Aku pun turun kemotor bermaksud mencuci jari-jari tanganku.
Uuuh.... Aku memalingkan wajahku dan menyipitkan mata aku. Air laut kok seperti air limbah. Gumam aku dala hati. Dengan berat hati, aku tetap mencuci tanganku. Aku menciumnya. Alhasil, bukannya bersih. Tanganku justru makin bau... Ha...ha...ha...

Minggu, Februari 22

Solusiku

Hari ini aku mencari solusi untuk PPL aku. Aku pun menemui Pak Leo Sutrisno. Aku sering membaca artikel Surat untuk para Guru di kolom Suara Enggang Borneo Tribun. Beliaulah penulisnya. Jika engkau sering membaca pasti engkau tahu. Dengan ulasan yang sederhana dan mudah dicerna. Begitulah aku memutuskannya menemui beliau demi wejangan yang akan sangat membantu aku sbg calon guru.
Pertama tama adalah dengan menambah volume suaraku. engkau tentu tahu, suaraku tak begitu lantang. Dalam beberapa hari ini selama di kelas aku mengeluarkan suara aku dua kali lipat dari biasanya. Semua harus aku lakukan karena memang harus aku lakukan untuk memenuhi kewajiban aku sebagai seorang guru. Walau akhirnya aku harus menghabiskan banyak air putih saat aku di kantor untuk membasahi tenggorokanku.
Kedua adalah mengetahui latar belakang siswa. Semua yang berkaitan dengan siswa.
Ada sebuah tugas buat aku. Tugas yang sangat menarik untuk menelusuri latar belakang mengapa siswaku di dalam kelas lack of motivation to study.
Salah seorang siswaku sangat pasif di kelas. Ia selalu meletakkan kepala di atas meja saat belajar. siapapun gurunya. Termasuk juga aku.
Saat pertama masuk kelas dan memberikan materi aku langsung bertanya
"Adek kenapa? Ngantuk? Sakit? Lagi ada masalah?"
Namun tak satupun pertanyaan aku yang dijawabnya. Siswa itu menjawab dengan senyum "Gak ada, Bu?"
Aku tersenyum penuh tanya padanya. Bukan bermaksud untuk mengejeknya. Namun naluriah aku sebagai seorang guru tertarik untuk membantunya dan memecahkan masalah yang menghimpitnya.
"Kalo adek ngantuk, cuci muka. Kalo sakit istirahat aja di UKS dan kalo adek ada masalah, apa masalah apa?"
Pertanyaan terakhir aku tak menungu jawabannya. karena aku tak yakin siswa tsb akan langsung memberikan jawabannya saat itu juga.
Ketiga, aku harus menurunkan bobot materi. sehingga siswa dapat lebih mudah untuk memahaminya. Lebih mengaitkan materi yang berkaitan dengan kehidpan siswa. Yang akan lebih mudah dicerna daripada memberikan contoh yang terlalu berat atau hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan kehidupan siswa.
Keempat dengan memberikan kuis. Kuis ini juga harus di awali dengan pertanyaan yang mudah agar para siswa akan terus tertarik. Dalam kuis ini jga diberikan poin.
Kelima, Memberikan pemahaman kepada siswa mengeni AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku) seperti yang sudah dipelajari di buku Quantum teaching.
Keenam, langkah yang berani adalah dengan mengajak siswa mendiskusikan langkah-langkah agar mendapatkan pembelajaran yang ideal. sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Selamat mencoba.....

Selasa, Desember 30

Borneo “Banjir”

Beberapa Kota dan Kabupaten di Kalimantan Barat terendam air. Walaupun Kalbar memiliki hutan yang cukup luas, namun banjir tak dapat di hindari. Selain lahan Kalbar yang lebih didominasi oleh lahan gambut.

Di Kota Singkawang hingga hari ini, air terus menggenangi. Walau mulai menurun, ancaman meluap lebih berpotensi. Dari berita yang dihimpun Pontianak Post, Kantor Search dan Rescue Pontianak hingga kemaren (18/12) telah melakukan evakuasi terhadap 85 KK (Kepala keluarga) korban banjir di Kota Singkawang.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Pontianak mengingatkan curah hujan di wilayah Kalbar berpotensi mencapai 500 milimeter perdetik. Sementara tinggi gelombang laut diperkirakan bisa mencapai enam meter. Hasil pencitraan satelit BMG curah hujan tinggi berpeluang di daerah tepian Sungai Kapuas-Kota Pontianak; Mempawah Hilir_Kabupaten Pontianak; Semitau, Selimbau, Embaloh Hulu, Embaloh Hilir_Kapuas Hulu; Tayan Hilir, Tayan Hulu, Kembayan, Balai Karangan_Sanggau; Mandor, Ngabang_Landak; Seluas, Bengkayang, Sungai Raya_Bengkayang; dan Selakau, Pemangkat, Tebas, Sejangkung dan Sambas_Sambas dan Kayong Utara. Curah hujan berskala sedang, yakni 300-400 milimeter terjadi pada hampir seluruh wilayah Kabupaten/Kota se Kalbar. (Pontianak Post, Jum’at (15/12))

Rabu, Desember 10

Idul Adha; Tumbuhkan Jiwa Berkorban

Sulaiman, sebagai seorang nabi harus di uji dengan mengorbankan anak semata wayang yang telah lama ia nantikan. Seorang anak yang Allah berikan melalui pernikahan dengan istri kedua dan setelah berusia senja. Dengan keikhlasan hati, ia menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Ia yakin bahwasannya segala perintah Allah pasti akan ada hikmahnya. Sehingga ia rela mengorbankan anaknya. Walau akhirnya Allah menggantikan dengan seekor kambing. Alhasil, anaknya tidak jadi di sembelih.

Sayang, bila kisah ini hanya menjadi dongeng sebelum tidur yang hilang begitu saja.

Sabtu, November 29

HARI GURU

Setiap tanggal 25 November selalu diperingati sebagai hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Ada dua hal yang menjadi perhatian tahun ini. Di Kota Pontianak, setelah upacara peringatan para guru tergabung dalam demonstrasi di Kejaksaan Tinggi Negeri. Dibeberapa kabupaten lain, dalam sambutan-sambutan yang diberikan pada upacara peringatan para guru diminta agar terus meningkatkan profesioalisme dalam mendidik dan mengajar para murid.

Demontrasi merupakan sebuah media yang dianggap efektif dan yang paling terakhir dilakukan ketika cara lain tak juga mampu untuk menyelesaikan masalah. Demonstrasi yang dilakukan oleh para guru di kota Pontianak hanya sebuah contoh, karena beberapa waktu lalu juga terjadi demonstrasi para guru di Kabupaten Ketapang. Di Kota Pontianak demonstrasi ini meminta Kejaksaan Tinggi Negeri agar membebaskan Kadin Kota Pontianak sebagai tersangka dalam penyalahgunaan DAK. Atau menangguhkan penahanannya. Dengan alasan karena banyak sekali hal yang harus diselesaikan oleh Kadin tersebut.

Adanya aksi yang melibatkan seluruh guru ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar pada hari itu dengan terpaksa harus di hentikan. Sangat disayangkan. Karena para murid harus menjadi korban. Sarana semula yang dianggap efektif justru menjadi sebaliknya. Masih teringat sangat jelas, pada saat itu saya cukup aktif di sebuah organisasi eksternal. Beberapa demonstrasi saya ikuti. Banyak orang-orang yang mencemooh. Mengatakan bahwasannya demo kebanyakan adalah para mahasiswa yang memiliki kemampuan akademis pas-pasan, mencari-cari sensasi agar masuk televisi, dan demo hanya membuang-buang energi tanpa ada yang bisa di dapat. Tidak hanya guru, tapi hampir semua kalangan akademisi dan terutama para dosen.

Berkurangnya aktivitas mahasiswa berdemo di gantikan oleh para guru-pendidik anak bangsa. Mereka telah menjilat ludah yang telah dikeluarkan.
Tidak seharusnya para guru di ikutkan dalam demo tersebut. Cukup dengan mengirimkan utusan seperti kepala sekolah, dan komite sekolah. Yang harus difikirkan adalah bagaimana permasalahan ini tuntas dan kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. Sehingga tidak ada yang menjadi korban. Hanya saja, para guru harus di beri informasi sehingga mereka tau peristiwa yang sebenarnya dan juga perkembangannya.
Semoga hal semacam ini tak pernah terulang lagi. Seorang guru haruslah memberi contoh yang baik kepada para muridnya. Seorang adalah pendidik dan pengajar untuk para muridnya. Cara paling efektif untuk memberikan contoh adalah dengan sikap yang baik. Bukan sekedar ucapan. Learn by doing is more effective.

Hal kedua. Meminta para guru untuk terus meningkatkan profesionalisme seorang guru bukanlah hal yang asing. Tapi sudah merupakan kebiasaan. Seperti orang tua yang tidak pernah bosan mengingatkan anaknya agar tidak menyimpang. Akibatnya, tentu akan berbeda. Kembali pada individu masing-masing. Konsep diri yang tertanam sejak dini. Jika guru tersebut memiliki konsep diri yang baik tentunya akan sadar. Tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai hal biasa. Hanya karena selalu disampaikan di setiap even. Seolah tak ada lagi kalimat yang lain. Para petinggi sudah kehabisan ide sehingga tidak tau apa yang harus disampaikan. Disesuaikan dengan perkembangan pendidikan.

Guru yang sadar akan mampu membaca kemajuan yang didapat dan terus berusaha untuk lebih maju. Tidak berdiam diri melakukan hal yang sama di setiap waktu.

Seringnya para pejabat Negara meminta agar para guru terus meningkatkan profesionalisme berarti hingga saat ini pendidikan di Indonesia khususnya di Kalbar belum mengalami peningkatan yang signifikan. Tentu hal yang disayangkan, karena pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari adanya UNAS-meningkatkan nilai kelulusan, BOS, Sertifikasi guru, sekolah gratis untuk SD dan SMP, dan juga pencairan dana pendidikan 20% sesuai dengan UU No 20 tahun 2003.