Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 8

Si Mata Elang

Debar hatiku bergelora setiap mataku bertemu dengan mata elangnya. Aku tersipu. Wajah memerah dan tertunduk malu. Kejadian serupa namun tak sama yang seringkali menimpaku disetiap pagi di hari rabu. Pagi itu pula yang selalu aku tunggu dan menjadi pagi paling istimewa selama tujuh hari dalam seminggu. Kimia yang begitu sulit menjadi mudah dan menyenangkan karena Mata Elang itu. Aku menjadi sangat aktif demi mendapatkan perhatian si Mata Elang. Aku harus memberikan yang terbaik. Nilaiku berhasil mencuat dan menerobos teman-temanku masuk tiga besar di kelasku. Tidak sampai di situ aku juga berhasil menyabet juara umum disekolah.
Malam-malamku menjadi sangat indah. Bertabur bintang gemerlapan. Kadang purnama benderang. Semburat sinarnya menembus jendela kamarku yang terbuat dari kaca. Aku sengaja tak menutupnya dan menyibakkan tirai berwarna merah jambu. Semilir angin menyusup. Dingin menyentuh. Menemaniku di setiap malam sambil menikmati bacaan buku sekolahku. Bayangannya selalu berkelebat di fikiranku. “Belajarlah, kau akan mendapatkannya.” Bisiknya lembut memacu motivasiku untuk terus belajar dan belajar.
Lantunan lagu Cellin Dion mengalun. Seakan turut menemaniku dan mengerti isi hatiku.
I wanna be the face you see when you close your eyes....
I wanna be your fantasy and be your reality in everything between...
Lagu yang menggambarkan isi hatiku yang dalam padanya.
Saat pagi menjelang kusambut dengan senyum cerah. Menyambut pagi terindah di hari rabu ini.
“Selamat pagi anak-anak...” suaranya menggetarkan hatiku. Darahku seolah berdesir sangat cepat.
“Pagi, Pak” Kami menjawab serentak.
Sang Mata Elang langsung mengabsen. Kegiatan belajar mengajar di mulai. Kukeluarkan buku-buku kimiaku. Ku buka buku tugas. Ada sebuah pertanyaan yang harus kami jawab hari ini. Aku menunggu sambil menyimak penjelasannya. Namun, tak jua Sang Mata Elang menanyakannya hingga jam pelajaran usai.
“Yuk ke kantin, laper nich...” Rama menepuk pundakku. Matanya meminta sebuah jawaban. Aku menganggukan kepalaku.
Rama adalah sahabat dekatku. Sahabat sejak aku masuk sekolah ini. Kami selalu berbagi dalam segala hal. Termasuk juga hubungan Rama dengan Sally seorang siswi SMA 2.
“Rama, mengapa aku selalu berdebar saat aku bertemu mata dengan pak Alex. Aku juga selalu merindukan pertemuan itu.” Kataku sambil menunggu bakso pesanan kami.
“Ehm... Apakah kamu selalu terbayang wajah, suara atau ...” ucapnya.
Aku mengangguk pelan.
“Aha... perkembangan yang sangat bagus untuk sahabatku.”
“Apa maksudmu?”
“Engkau telah jatuh cinta”
Percakapan kami terhenti. Bakso pesanan telah siap. Pembicaraan teralihkan.
“Berhati-hatilah. Aku tak bermaksud menakut-nakutimu, Dew. Pak Alex, yah meskipun belum berkeluarga, beliau sangat dewasa. Sedangkan kau masih sangat lugu.”
“Aku semakin gak paham dech ma kata-kata kamu, Ram.”
Rama memegang kepalaku. “Suatu saat kamu pasti tau.”
Rama meninggalkan aku termangu.
XXX
Aku semakin penasaran dengan ucapan Rama beberapa waktu lalu. Aku ingin mengungkap rahasia itu. Aku mulai mencari tahu tentang Si Mata Elang. Semua informasi tentang rumah, keluarga, orang-orang dekatnya, yang ia suka dan dibencinya. Sejalan dengan itu, aku tak mampu lagi menutupi rasa hatiku yang semakin membuncah. Seakan meledak. Kehadirannya disetiap detik waktuku. Membuat hatiku berbunga-bunga. Tak jarang aku menangis karena semua hanya dalam angan. Rama yang mengetahui kondisiku justru semakin meledekku. Hanya pada Rama aku menceritakan semuanya.
“Aku punya ide. Gimana kalau kita ajak pak Alex makan siang. Itung-itung biar kamu makin dekat.” Saran Rama padaku.
“Ga akh... gila ye...” aku menolak mentah.
“Ehm.... Well, aku yang akan mengaturnya. Ada aku. kamu tenang aja dech.” Bujuknya.
“Aku bilang enggak. Titik.” Mataku melotot kearahnya.
“Oke, oke. Aku kalah. Tapi kamu makin cantik aja kalo melotot kayak gitu.” Rayunya.
“Gombal.” Aku berlalu meninggalkannya.
Setelah beberapa kali merayuku akhirnya terjadi juga peristiwa makan siang bersama Si Mata Elang. Disebuah warung pojok Rama berbasa basi menanyakan mengapa Pak Alex mengambil jurusan kimia. Sedangkan aku hanya sesekali menimpali. Dan...
“Gimana kalo ternyata ada murid bapak yang jatuh cinta ma bapak?” Rama meluncurkan pertanyaan yang membuat wajahku panas dan jantungku berhenti berdetak.
Pak Alex tersenyum. “Jatuh cinta adalah hal yang wajar dan suatu keharusan bagi orang yang normal. Menurut bapak seumuran kalian lebih baik belajar aja dengan serius. Raih cita-cita kalian setinggi-tingginya.”
“Kalo bapak sendiri gimana? Sepertinya...” aku mencoba menetralkan hatiku dengan melempar sebuah pertanyaan yang belum selesai.
Beliau menjawab dan berujung pada menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis yang sekarang sudah menjadi calon istrinya. Beliau juga menawari kami untuk berkunjung kerumahnya. Acara makan siang selesai. Pak Alex pulang sendiri sedangkan aku bersama Rama.
Di depan rumah, Rama memegang pundakku. Kebiasaannya saat ia ingin menyampaikan sesuatu padaku.
“Kamu paham sekarang. Aku tak ingin keceriaanmu hilang karena peristiwa ini. Aku akan selalu menjadi sahabat terbaikmu.”
Aku mengangguk. Rama pun pamit pulang.
XXX
“Enam tahun yang lalu. Saat aku masih SMA. Semangatku yang sangat menggebu untuk belajar dengan tekun dan kuliah. Sejak peristiwa itu, aku gak pernah mikirin lagi yang namanya cinta. Sampai akhirnya aku ketemu kamu. Kamu yang menghidupkan kembali cintaku yang telah lama mati.”
“Dengarlah, aku selalu berdo'a. Meminta pada Tuhan. Moga engkau adalah yang terbaik untukku. Bukan hal yang berlebihan. Tapi permintaan hati dan cintaku yang tulus. Engkau adalah mata elangku.” Aku menatapnya.
“Tapi bila kau lebih memilih gadis itu, tentu aku akan mengikhlaskannya. Bukankah cinta akan selalu memberi yang terbaik untuk orang yang dincintainya. Pergilah. Berikan seluruh cinta dan hidupmu hanya untuknya. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua.” Airmataku berderai.
Suasana sepi. Diraihnya tanganku. Di letakkan kedadanya. Kemudian ia mengecup berkali. Disapunya airmataku. Dikecupnya keningku. Memeluk tubuhku erat. Seolah tak kan pernah melepasnya.
“Setiap detikku berdo'a. Engkaulah sahabat sepanjang hidup dan matiku. Bukanlah hal yang berlebihan. Tapi permintaan atas tulusnya hatiku. Karena hanya engkau yang selalu ada dalam hatiku.”bisiknya lembut ditelingaku.

Selasa, Mei 19

Aku ingin membuatnya selalu tersenyum dimanapun dan kapanpun. Karena aku mencintainya dan aku ingin memilikinya. Bukanlah keegoisan diri. tapi harapan tak bertepi. Aku hanya bisa berusaha. Segala sesuatu harus diusahakan. Sesuatu tak kan datang tanpa di undang. Apa pun wujudnya. Bukankah demikian Tuhan mengatakan pada hamba-hamba-Nya. Ia tak merubah nasib seseorang jika orang tersebut tak mau berusaha. Dan seperti kata Kazuo Murakami tiada kegagalan tanpa kegigihan.

Harapan tak kan berujung pada kekecewaan. Dengan syarat, bekerja dengan cerdas dan istiqomah. Karena harapn itu kan terwujud.
Bersambung....

Rabu, April 29

Malam ini

Malam ini aku bantuin teman aku nyari tugas. Kebeneran, aku lagi pengin otak atik blog n face book aku yang baru. Kebetulan juga, hari ini aku syok abis. Coz, mid semantic aku jeblog. Aku khawatir, aku dapat C. Memang nilai bukanlah segalanya, but bukan berarti gak peduli dengan nilai. Karena ngaruh juga kalau ntar nyari kerja. He..he..

Minggu, Maret 29

Apakah Engkau Mendengar Sesuatu?

“Apakah engkau mendengar sesuatu?”
Rudi berhenti membaca, menggelengkan kepala dan menatap mata sahabatnya.
“Apa yang kau dengar?”tanyanya.
“Sungguh, engkau tak tahu?”
Kali ini Rudi menganggukkan kepala. Dikerutkan keningnya dan matanya menyempit.
“Tentu. Aku begitu konsentrasi membaca sehingga aku tak memperhatikan keadaan sekitarku.”
“Bukankah lusa akan ada ujian Semantics. Aku harus belajar sungguh-sungguh. Aku harus mendapat nilai A.” jawab Rudi mantap demi meyakinkan sahabatnya.
“Baiklah. Lanjutkan saja aktivitasmu membaca dan membaca. Hanya membaca buku tanpa membaca apa yang tengah terjadi pada bangsa ini.”
Abu meninggalkan Rudi yang kembali asyik membaca buku kuliah. Abu berhenti di bawah pohon rindang. Menarik nafas dalam. Keringatnya bercucuran. Pontianak kota yang sangat panas. Ia mengambil selembar kertas dan menjadikannya sebagai kipas angin manual. Udara di bawah pohon begitu sejuk. Angin semilir. Sesaat ia melanjutkan perjalanannya. Ia membelokkan langkahnya menuju kerumunan mahasiswi yang tengah bercakap di taman kampus.
“Bolehkah aku bergabung?” Abu menawarkan diri.
“Oh, tentu saja.” Ucap salah satu diantara mereka.
Abu terlibat perbincangan hangat dengan para mahasiswi.
“Apakah kalian mendengar sesuatu?” tanyanya
Semua pandangan mengarah padanya. Pandangan penuh tanya.
“Tentu aku mendengar ucapanmu.” Celetuk Susi.
“Bukan ucapanku tentunya. Tapi, apakah kalian mendengar sesuatu yang sangat penting dan patut kita diskusikan?”
Semua menggelengkan kepala.
“Baiklah. Lanjutkanlah percakapan kalian mengenai ini dan itu. Tanpa ada esensi yang dapat kalian peroleh. Kecuali kesenangan sesaat untuk mengisi waktu luang kalian.”
Abu pun berlalu meninggalkan kerumunan para mahasiswa. Ia menuntun kakinya melangkah. Ia kembali terduduk di bawah pohon rindang. Menatap daun-daun yang berguguran. Dan menerawang celah dedaunanIa melihat jam tangannya. Setengah jam lagi ia masuk kuliah. Ia mengecek kembali tasnya. Dua buah buku bacaan umum, sebuah blinder buku dan DHK didalamnya, serta kotak pensil berisi perlengkapan menulis. Ia menuju ruang 17. Memilih tempat duduk paling depan. Sambil menunggu sang Dosen, ia berbincang dengan teman bangku sebelah.
Suara gemuruh saat dosen masuk. Sesaat senyap.
“Kalian sudah semester akhir sekarang. Sudah seharusnya untuk fokus dengan kuliah. Tidak perlu lagi sibuk mengurus sesuatu yang tidak bermanfaat.”
Abu mengacungkan tangan.
“Apakah sesuatu yang tidak bermanfaat itu, Bu?”
“Kalian terlalu asyik berorganisasi, mengadakan kegiatan ini dan itu, meninggalkan kuliah, pergi keluar kota, ikut demo dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal itulah yang membuat kalian lama di kampus. Menjadi penghuni setia kampus”
“Bagus lama di kampus. Dari pada lulus jadi sarjana bingung” celetuk seorang mahasiswa yang duduk paling belakang.

Abu merenung. Dari belakang, samping kanan dan kiri terdengar suara
“Benar memang. A gak selese kuliahnya, gara-gara ikut organisasi. B juga lama dikampus karena terlalu sibuk diorganisasi.”
“Tunggu. Bukankah C juga bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu walaupun sangat sibuk dengan kegiatan organisasinya.”
Dalam hatinya Abu berkata
“Pak D kuliah selama lima tahun, selama kuliah Pak D adalah seorang aktivis kampus. Aktif di kampus dan juga OKP (organisasi kepemudaan). Dia menjadi Dosen idola karena kemampuan verbalnya dalam menyampaikan materi yang sangat mudah di terima. Juga waktu kuliah bersamanya sangatlah menyenangkan. Pak B hanya membutuhkan waktu tiga tahun setengah untuk menyelesaikan kuliahnya. Dia sangat fokus dengan kuliahnya, sehingga bisa cepat selesai. Di kampus Pak B menjadi dosen “dewa ngantuk”. Karena disetiap mata kuliah yang ia pegang, para mahasiswa dibuat ngantuk. Tapi berbicara mengenai teori Pak B lebih tinggi dari pak D.”
Kelas berakhir. Abu, seperti para mahasiswa lain menghambur mengambil DHK diatas meja dosen.
Abu kembali ke bawah pohon rindang. Seseorang duduk sambil membaca. Sesekali menuliskan sesuatu yang dibacanya.
“Udara di sini begitu sejuk. Aku paling senang duduk disini seusai kuliah dijam terakhir. Pontianak yang panas akan cair oleh udara di bawah pohon ini.”
“Engkau benar. Khatulistiwa membara akan terobati oleh rindangnya pohon-pohon. Sayangnya, hutan kita telah habis terbakar. Tinggallah puing dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengembalikannya menjadi pohon rindang.”
Abu manggut-manggut.
“Aku setuju denganmu. Semua belum terlanjur bukan. Masih ada kita, generasi penerus yang akan memperjuangkan berjuta pohon rindang itu.” Abu menimpali ucapan seorang yang baru dikenalnya.
“Budi.” Seseorang itu mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan.
“Abu.” Abu menyambut uluran tangan Budi dan menyebutkan namanya.
“Baru selese kul?”
“Ia. Semester 7. Anda?” jawab Abu.
“Semester 3.”
“Apakah engkau mendengar sesuatu?” Tanya Abu kemudian.
“Tentu saja, aku mendengar banyak hal.”
“Apa itu?”
“Di kampus?”
Abu menganggukan kepalanya. Budi mulai cas cis cus memberikan argumennya mengenai yang ia dengar selama dikampus.
“Apakah engkau hanya mendengar.”
“Tentu tidak. Aku melihat, mengamati dan membacanya. Aku tidak suka dengan isu murahan yang di buat oleh warga kampus untuk membuat suasana menjadi panas atau perang dingin. Aku mencoba untuk menganalisa bersama teman-teman aku dan mencari barang bukti untuk memperkuat analisa kami. Bukan analisa buta yang akan mudah terpatahkan.”
“Bagaimana dengan Pemirama Untan.”
“Pilihlah orang yang memang mampu mengemban amanah dengan benar. Meskipun ia meminta kepemimpinan itu.”
“Ada beberapa diskusi yang membahas mengenai kepemimpinan. Dengan latar yang berbeda, karena yang mengadakan diskusi juga berbeda. Sesuai dengan tingkat kepentingan.”
“Sesuatu akan menjadi benar itu kondisional. Kebenaran yang relative. Versi kepemimpinan pasti berbeda.”
“Apakah semua kebenaran bersifat relative?”
“Tidak. Kebenaran adanya Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Muhammad sebagai Rasul Allah adalah kebenaran mutlak.”
“Demikian juga Yesus sebagai Tuhan umat kristiani dan umat Hindu dan Budha yang menyembah Dewa.”
“Ya. Seperti yang kau katakan. Ciri pemimpin yang baik akan berbeda antara satu golongan dengan yang lainnya. Tapi esensinya tetap sama. Yaitu orang yang mampu melaksanakan dan bertanggungjawab dengan amanah yang diembannya.”
“Ada banyak buku yang mengulas mengenai kepemimpinan…”
“Kita harus mampu untuk mengambil kesimpulannya. Bukan serta merta mengikut apa yang ada dalam buku. Ingatlah penulis juga manusia, kita harus bisa memberikan karya pemikiran kita juga. Dengan menjadi diri sendiri.”
“Menjadi trendsetter. Bukan follower. He…he…”
Sinar surya tajam menembus celah dedaunan. Angin terus berhembus menyambut tawa lepas mereka. Abu dan Budi menatap ke atas, menerawang ke langit.
“Mungkinkah mereka yang duduk di bangku kepemimpinan memiliki sikap amanah? Bagaimana menurutmu?”
“Belum tentu. Tapi kita juga gak boleh berprasangka kalau mereka gak amanah.”
“Mereka bisa duduk di kursi itu, karena mereka berhasil meraup suara terbanyak. Dengan berbagai macam strategi yang lebih kita kenal dengan kata “politik”.” Papar Budi panjang dan lebar.
“Aku sangat tertarik dengan argumenmu. Jadi penerapan demokrasi belum benar. Semua masih dalam proses menuju demokrasi yang sesungguhnya. Pastinya engkau juga tahu, banyak yang tidak sepakat dengan demokrasi ini. Karena dalam beberapa hal sangat merugikan. Sebagai contoh, orang yang tidak memiliki kapasitas memimpin justru bisa terpilih sebagai pemimpin hanya karena suara terbanyak dan strategi yang matang yang dirumuskan oleh orang yang mensukseskannya.”
“Segala sesuatu pasti ada yang pro dan kontra. Sudah biasa terjadi. Menurut aku, kalau memang tidak sepakat dengan demokrasi ini, tidak usah terlibat di dalamnya. Tapi membentuk system baru yang suatu saat akan meruntuhkan system yang menurutnya tidak tepat dan harus diganti.” Suara Budi terdengar meninggi.
Keduanya terdiam sesaat. Menunduk. Saling menatap satu sama lain.
“Aku harus pergi sekarang. Karena aku ada janji dengan seseorang. Sampai jumpa lagi.”
Budi berlalu meninggalkan Abu. Melambaikan tangannya. Hingga hanya terlihat punggungnya saja.
“Mengapa di saat akhir waktu kuliahku aku baru menyadari, betapa besar peran yang selama ini aku miliki dan sama sekali belum aku jalankan. Alangkah bodohnya aku. Jika waktu dapat kuputar, aku kan menjadi manusia yang berguna dan memperbaiki semua kesalahan ini.” Gumamnya dan berlalu meninggalkan pohon rindang yang tak henti menghembuskan semilir angin dan menanti kehadiran pohon-pohon rindang lainnya.
Surya menguning. Meninggalkan peraduannya. Perlahan tapi pasti. Menyongsong malam yang kan menyelimuti bumi.

Sabtu, Februari 21

Era

Namaku Era. Nama pemberian ibuku. Kata ayah Era berarti zaman. Ibu berharap kelak aku bias menjadi pelopor zaman. Pelopor seperti apa aku pun tak tahu. Karena Tuhan tak pernah memberi kesempatan pada ibu untuk menjelaskan semua ini padaku.

Aku remaja awal yang sekolah disalah satu SMA swasta di kota kelahiranku. Sudah dua hari ini, aku tak masuk sekolah. Rasa malas melumpuhkan semangatku. Kesialanku bertambah saat tak ada seorangpun peduli apa lagi memahami aku. Semua justru meyudutkan posisiku yang memang salah.

Seperti siang itu. Di ruangan guru, saat surya begitu tajam sinarnya. Tubuhku yang penuh keringat. Di hadapan dewan guru, aku dipojokkan oleh orang yang selama ini aku kagumi.
“Aku hanya ingin kalian tahu, dan aku butuh sedikit waktu” jerit hatiku yang tak pernah dengar jika aku tak mengungkapkannya.

Sudah pasti semua mata tertuju padaku. Aku tertunduk lemah dan malu yang menyergapku. Wajahku merona. Bukan cemburu. Tapi malu tak tertahankan.
Pak Heru mengacak rambut keriwilku. Dengan senyum ejek. Dengan suara yang lantang. “Hari Sabtu kau tak sekolah?” tanyanya seolah tak tau. “Sudah dua Sabtu inikan? Sengaja menghindar dari pelajaran saya? Mau jadi apa kamu?”

Aku semakin perih. Sadarkah ia bahwa banyak orang gagal di bangku akademik tapi ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu bersaing di dunia luar yang lebih tajam dari bangku ini.

Setelah puas ia membiarkan aku kembali ke kelas. Aku segera berburu kekelas XI IS 2. Kuhempaskan tubuhku di atas kursi kayu di kelasku. Aku terpaku. Tatapan mataku kosong ke bawah meja. Kucabik-cabik rambut keriwil ku yang sedari tadi sudah berantakan. Membuatnya semakin berantakan.
“Tuhan…” teriakku dalam hati.

Ku tegakan kepalaku. Kutatap seisi kelas. Semua wajah sahabatku terlihat bahagia. Tertawa, bercanda, ngobrol dan ada juga yang asyik memainkan telepon genggamnya.
Bersambung…

Siang ini mata pelajaran bahasa inggris. Guruku tak datang. Karena ada sesuatu alasan yang hanya para gurulah yang tau. Seorang guru masuk kelasku.

Rabu, Desember 3

Sebuah rumah


Pagi nan cerah terbalut hangat sang mentari. Udara segar menyeruak. Ku hirup dalam, menyegarkan kembali paru-paruku yang melemah. Indah pagi ku sambut dengan senyum. Menyongsong hari penuh asa dan mimpi.
Aku berlari kecil, terus berlari hingga melewati gerbang itu. Aku terengah. Aku merasakan desiran hangat didadaku. Namun, aku terus berlari. Melewati jejeran rumah disepanjang jalan nan becek ini.
“Mari, Bu!” sesekali aku menyapa orang yang aku temui dengan senyum teramah yang aku miliki. Butiran bening itu mengalir dari dari keningku. Panas. Gak ada kipas. Aku mengibas-ibaskan tanganku. Mengharapkan desiran angina. Walau sebenarnya tak sedikitpun hembusan angin menyapaku. Malah tanganku yang makin lelah saja.
Sepanjang jalan menuju pelabuhan. Mataku terpana oleh rumah-rumah di tepi jalan. Tak jarang. Sebuah rumah benar-benar membuatku tercengan. Airmataku menetes tanpa menunggu aba-aba dari bibirku.
Rumah itu hampir roboh. Telah membentuk sudut 45°. Berdinding dan berlantai papan yang menghitam karena tak pernah sekalipun dicat. Susunannya tak rapi lagi. Tumpang tindih. Selalu ada celah di antara papan-papan lantai dan dinding. Atapnya terbuat dari daun nipah. Warnya merapuh. Warna coklat yang sangat tua.
Tak bisa dibedakan ruang tamu, kamar, dan dapur. Ada dua buah ruangan yang dipisah oleh papan. Keduanya adalah kamar. Ruangan pertama hanya di tutup oleh lima buah papan. Dari luar saja kita bisa melihat isi didalamnya. Sebuah jas hitam yang tergantung di dinding dengan hanger dan juga tumpukan bantal. Ruangan kedua tak jauh beda. Hanya saja jumlah papan yang sangat terbatas sehingga selebihnya di tutup dengan lemari. Ruangan ini rapat. Selebihnya adalah ruangan yang cukup luas. Ada tempat untuk memasak dengan tungku dan juga ruang tamu. Terlihat tumpukan kayu kering siap pakai di samping tungku dan juga sebuah ketel untuk memasak nasi. Api menyala-nyala. Membakar ketel diatas tungku. Aku masih belum yakin dengan ruang tamu. Karena jika ada tamu langsung ke pintu dapur. Tidak ada pintu selain itu. Hanya sebuah jendela.
Semua dinding luar rumah juga terpasang jarang-jarang-sedikit rapat dari kamar yang kusebut tadi. Sebuah tali jemuran berdiri tepat di samping kiri pintu dapur. Rumah ini berdiri diatas rawa. Seperti banyak rumah yang lain.
Sumi adalah nama pemilik rumah itu. Pagi ini ia duduk di jendela. Di pangkuannya seorang anak laki-laki kecil. Sumi memanjakan anak berumur lima tahun itu. Sedangkan Sumi sendiri sekitar 45 tahun.
Sumi mengalihkan pandangan ke arahku. Tersenyum lebar saat aku menyapanya.
“Mampir, Dek” tawarnya padaku.
“Iya, Bu. Makasih” aku membalas senyumnya. Sambil berlalu meninggalkannya.
Aku melanjutkan perjalananku. Memang tidak hanya rumah Sumi saja yang kondisinya tak layak lagi.
Mataku menatap tajam. Sebuah gedung bertingkat berdiri kokoh di tengah-tengah banyak rumah reot itu. Gedung itu berwarna terang. Tingkat empat dan tertutup rapat. Hanya celah-celah kecil yang sengaja di buat. Kakiku terhenti melangkah. Memacu rasa ingin tahuku.
Di depan sana persis depan pelabuhan juga berdiri bangunan kokoh dengan toko-toko dibawahnya. Tas-tas tersusun rapi, baju dengan beragam model, dan juga sembako. Semua terlihat rapi.
Aku memperlambat langkahku. Membiarkan mataku menatap liar. Dan sejuta pertanyaan tanpa jawaban di otakku.

Sabtu, November 29

Maya

Mataku terus memandang lautan lepas. Pohon-pohon rindang berjejer rapi. Membentuk kumpulan pulau-pulau kecil ditengah laut. Senja menyongsong. Mega merah muncul dari barat. Perairan menguning terkena pancarannya hingga terlihat seperti permata. Ditambah riak ombak kecil dan Lumba-Lumba yang sesekali muncul dipermukaan. Silih berganti.
Sebuah motor air berada diujung tepi dermaga. Klotok, demikian namanya. Beberapa penumpang hilir mudik membawa barang bawaan. Semua terlihat sibuk. Beberapa lagi berdiri/bersandar dipagar dermaga. Percakapan akrab diantara mereka dan seorang pria yang menatap kosong lautan lepas.
Angin sore semilir membawa jilbabku menari-nari. Aku duduk disebuah bangku panjang samping tempat penjualan tiket. Airmataku menggenang di sudut mata. Beberapa mata melirik ke arahku, memperhatikanku. Terbersit rasa malu di hatiku.
Segera kuambil buku harianku dari dalam tas dan membiarkan tanganku menuntun pensil diatas kertas putih ini.

Aku harus menerima perih dihati. Rasa rindu yang pastikan mendera jiwa. Hatiku sedih meninggalkan Maya. Tapi aku tak mungkin hidup disini. Karena aku tak memiliki siapa. Orang-orang yang baru kukenal dan bersedia menjadi keluarga. Jua cinta. Cinta yang aku pun tak tau. Dapatkah aku memilikinya??Karena aku tak pernah menanyakan semuanya. Perasaan diantara kita. Persahabatan atau lebih dari itu. Getar di hati yang berbeda. Bagaimana?? Bagaimana aku bisa yakin atau justru sebaliknya-meragu??? Tak ada jawaban atas semua pertanyaan ini. Karena bibir selalu terkunci. Menyimpan seribu rahasia.

Mataku kembali menatap lautan luas tak bertepi dan hamparan air biru yang menyelimuti. Tatapan penuh makna. Harapan yang tinggi dan cinta yang menggantung. Apakah semua ini hanya akan menjadi kenangan terindah yang tak kan pernah kumiliki lagi dalam hidup ini? Akankah semua kan menjadi cerita usangku dinegeri seberang?
Seakan sebuah film yang kembali berputar dan terus berputar. Membuka seluruh file dalam otakku.
###
Pukul 02.30 siang itu. Bersama para sahabatku. Udara panas walau sang surya bagai tersembunyi dibalik peraduannya. Langit terbalut awan hitam. Wajah pucat dan tubuh yang terbasuh keringat.
Aku menyapa seorang laki-laki bertopi yang sedang menancapkan bendera sebuah partai besar. Yaah…aku termasuk tipe orang baru yang selalu ingin tahu atas segala sesuatu.
“Mau ada kegiatan apa pak?” sapaku.
“Ada pertemuan.” Jawabnya singkat.
“Kapan? Boleh ikutan gak?” aku kembali menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di otakku.
Ia hanya tersenyum. Dan membiarkan pertanyaanku menggantung tanpa jawaban. Aku pun berlalu menyusul para sahabatku.
Keesokan harinya seusai shalat Ashar di masjid dekat aku tinggal. Aku menghampiri seorang perempuan penjual minuman. Aku memesan segelas es cendol.
“Udah lama jualan minumannya, kak?” aku membuka percakapan.
“Belum. Baru tiga bulan.” Jawabnya sambil membuatkan segelas cendol yang kupesan. Ia terlihat terampil dengan pekerjaannya. Nik, nama panggilannya. Ia seusia denganku. Berkulit sawo matang dengan rambut panjang bergelombang terikat rapi dibalik punggungnya. Memakai kaus pendek dan celana jeans seolah menjadi kostum khususnya saat berjualan. Seperti sore itu saat aku menjumpainya.
Maghrib itu. Gerimis menyongsong, langit menghitam di sambut kilat yang tak henti menyambar. Disebuah rumah di pulau Maya. Gelap. Karena listrik padam. Ruangan itu sangat luas. Ruangan ini dikelilingi oleh kaca yang tertutup korden putih. Selaras dengan warna cat. Dua buah pintu memisahkan kamar tidur dan ruangan ini. Remang cahaya lilin menerangi. Di salah satu sofa ruang tamu aku duduk. Sebuah bunga menghiasai meja. Nik keluar membawakan secangkir teh untukku. Ia duduk disampingku.
Seorang pemuda bertopi datang. Ia duduk persis didepan kursi aku duduk. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Karena ruangan yang tak terang. Hanya suara tegas yang ku dengar saat ia berbicara.
Ia memperkenalkan namanya padaku. Ryan. Sebuah nama yang bagus. Pertemuan yang sangat singkat. Karena tak lama ia langsung pamit.
“Aku pulang dulu ya… udah maghrib. Oh iya, lain kali maenlah ke rumah. Dekat kok dari sini.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku.
“Insyaallah.” Jawabku.
Adzan maghrib berkumandang. Aku minta diri pada Nik untuk segera pulang. Gerimis semakin deras. Aku menyalakan mesin motor dan menerobos gerimis yang kini telah menjadi hujan.
Saat pagi aku melintas di tempat biasa Ryan bekerja. Dengan topi dan baju kaos, sebuah kelapa tua yang akan dikupas ia memanggilku. Aku menoleh kearahnya. Ia tersenyum ramah.
“Ani mampir!!” serunya.
Aku mendekat. Ia memperkenalkanku dengan temannya.
“Rudy” Ia memperkenalkan diri. Kami berajabatan tangan.
“Mau kelapa muda gak?” tawar Ryan padaku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
“Mau berapa, An” Tanya Ryan sambil memanjat pohon.
“Lima aja. Sekalian buat teman-teman.”
Buggg…. Lima buah kelapa muda jatuh persatu di tanah. Aku mengambilnya di bantu Rudi. Mereka mengupasnya persatu. Hingga semua kapasnya terkupas bersih. Ryan membelah satu buah kelapa.
“Wah… gak ada gelas nih…” celetuk Rudy.
“Aku bisa kok.” Ryan memberikannya padaku. Aku meminum tanpa menggunakan gelas. Ryan mengantarku pulang dengan membawa empat buah kelapa yang terkupas.
“Nanti malam ada kegiatan gak” Tanyanya.
“Setelah maghrib gak ada tuh. Memang kenapa?”
“Aku mau kerumah Rudy. Kamu mau ikut sekalian nemenin aku.’
“Ehm…”
“Mau apa ndak? Kok mikirnya lama benar”
“ OK. Kamu jemput aku dirumah.”
“Ok dech.”
Kami tiba didepan rumah. Ia mengingatkan aku lagi sebelum pergi meninggalkan aku.
Seusai shalat maghrib, ada sebuah sms masuk. Sebuah pesan singkat dari Ryan.
Udah siap blm
Aku segera membalasnya.
Blm. Baru selesai shalat. 15 menit lg km jemput aku ok.
Ku tekan tombol send.
Seperti janjiku, Ryan datang tepat waktu. Aku juga sudah siap. Tanpa mematikan mesin Ryan memacu gas. 10 menit kemudian, kami sudah dirumah Rudy. Aku, Ryan dan Rudy duduk di teras rumah yang berukuran 2x2 meter. Berlantai keramik.
“Kapan pertama kita ketemu ya An” Tanya Ryan.
“Dirumah kak Lilis. Waktu magrib dan hujan deras banget. Masa kamu lupa sih Yan”
“Benar. Kamu atau aku yang lupa? Coba diingat lagi.” Aku mencoba untuk mengingat setiap pertemuan diantara kami dan keputusanku tetap satu.
“Di rumah kak Lilis. Benar kan?” Ryan tertawa dan memandangku. Di ikuti oleh Rudy. Mereka terlihat kompak. Aku kikuk. Aku terus berusaha mengingatnya.
“Kok kalian malah ketawa. Apa jawaban aku salah?”
Rudy terkekeh dan masuk kedalam untuk mengambil air minum yang sudah dibuat oleh ibunya. Ryan masih tertawa. Kini ia terlihat menahan tawanya. Ia terus memegang perutnya.
“Hem.... kamu benar-benar lupa atau gak tau” aku menggeleng.
Ryan memegang kepalaku dan membelainya. Aku melepaskan tangannya. Kini ia memegang tanganku. Sangat erat namun begitu lembut. Rudy muncul dari balik pintu. Ryan segera melepas genggaman tangannya.
“Sudah ingat belum?” Tanya Rudy setelah meletakan nampan berisi tiga cangkir teh hangat. Aku menggeleng. Akhirnya Rudy menjelaskan. Dan aku tahu kini. Orang yang aku sapa siang itu yang sedang memasang bendera sebuah partai adalah Ryan. Malam semakin larut. Kami pamit untuk pulang.
Setiap pagi aku selalu kepasar untuk belanja sayur. Rumah Ryan yang berposisi di daerah pasar jadinya kami selalu bertemu. Terkadang aku melihatnya sedang membawa mobil pick upnya dan tak jarang pula ia menurunkan barang dari mobilnya.
Malam minggu ini, ia mengajakku ke rumah sahabatnya. Karena besok lusa aku harus pulang. Aku senang banget. Karena di rumah sahabatnya banyak terdapat bunga. Aku memilih salah satu dan meminta bibitnya. Ryan tersenyum setiap kali melihat aku terpesona dengan bunga-bunga dihalaman rumah. Aku akan menjadikan bunga ini sebagai kenangan persahabatanku dengan Ryan. Aku akan merawatnya agar persahabatan ini abadi.
Selepas dari rumah Nani, kami mampir kepelabuhan. Angin malam sangat dingin dan kuat. Kami duduk berhadapan di tepi dermaga. Kami asyik bercerita sambil menikmati suara deburan ombak. Ryan selalu memegang kepalaku saat aku tertawa dan bercerita kisah lucu dalam hidupku.
Akhirnya, ia memegang tanganku. Kini kami duduk berdekatan. Sangat dekat. Ia memelukku.
“Aku pasti akan merindukanmu.” Ucapnya.
Aku menunduk tanpa memberikan jawaban. Aku menatap matanya. Dalam remang cahaya dari pancaran lampu bangunan yang terletak dekat pelabuhan.
“Kenapa harus rindu?” aku tertawa dan melepaskan diri darinya. Ia menahanku.
“Ada sesuatu yang aku sembunyikan selama ini dari kamu”
“Aku janji, setahun lagi aku pasti akan mengatakannya.” Ia memelukku erat. Membiarkanku dalam kehangatannya.
###
Airmataku menetes deras. Dua puluh menit lagi motor yang aku tumpangi berangkat. Aku merasakan kehilangan yang amat sangat. Hatiku bagai teriris sembilu. Luka yang tak berperi.
Ku kirimkan sebuah puisi untuk Ryan.
Aku ingin menjd shbt yg selalu hadir saat semua m’jauh, saat semua tiada. Yg selalu ada dlm setiap duka n bahagia. Aku ingin menjd sahabat yg terbaik kuberikan utk semua. Ryan, waktuku tak kan pernah kembali namun semua kenangan indah akan abadi.
Lima belas menit berlalu. Tak ada balasan darinya untukku. Hatiku bertambah perih. Aku tertunduk siap menerima semua yang kan terjadi.
“Ayo berangkat. Mana barangnya?? Saya bawakan.” Seorang laki-laki berbadan tinggi dan besar membuyarkan lamunanku.
“Itu… tas saya” aku menjawab gugup dan menunjuk tas yang kumaksud. Ia langsung mengambilnya dan membawa menuju motor.
Aku membalikkan tubuhku ke arah jalan raya. Berharap akan hadirnya seseorang yang kunanti. Seseorang tersenyum padaku. Senyum yang telah mengisi hatiku. Dia… Ryan bersama Rudy.
“Mau kemana??” tanyaku basa basi.
“Aku akan mengantarmu pulang.” Jawab Ryan. Sedangkan Rudy tersenyum dibelakangnya meyakinkan.
“Mengantarku??” aku tergugup.
“Ia. Kenapa??”
“Ah… tidak. Tidak ada apa-apa.”
Kami langsung menuju motor bersama. Kami duduk dibangku bagian depan. Paling dekat dengan TV. Motor telah terisi penuh oleh penumpang. Bangku-bangku di tepi dan juga bagian tengah. Tapi aku merasa hanya ada kami di motor ini. Di motor, sambil tersenyum Ryan menunjukan sms yang aku kirim.
“Pasti ada maksud lain dari sms ini.”
Aku tersenyum malu dan menundukan pandanganku. Tak sepatah katapun keluar dari bibirku. Ryan memegang erat tanganku dan menatap tajam mataku.
Aku gak tau Ryan. Rasa itu muncul tiba-tiba. Rasa ingin memiliki dan takut kehilangan. Dan kini aku sadar, aku benar-benar sayang dan sangat mencintaimu. Ucapku dalam hati
Aku memejamkan mata memeluk erat lengannya dan menidurkan kepalaku dibahunya.
Aku tak mau kehilangan cinta yang telah aku miliki sekarang. Aku akan terus menjaganya. Menyemai ikatan cinta ini agar terus tumbuh dan bersemi. Walau jarak yang membentang diantara kami. Bukanlah penghalang yang berarti. Karena akan selalu ada cinta. Cinta yang tulus dan abadi.
Mesin motor terus menderu meninggalkan Maya. Membawa kenangan cintaku bersamanya.

Sabtu, September 20

Rindu Pondoku

“Kak Ina ayo…, Opal mau ngaji.” Suara mungil itu memanggilku. Mendekat, menerobos pintu kamarku. Terdengar merengek. Ku buka pintu perlahan. Aku kini telah siap. Dengan jilbab coklat sebagai penutup kepala.
“Kak Ina mau kemana? Kok pake bajunya rapi?” tanyanya mencari tahu. Aku memegang pundaknya sembari menekuk lututku. Ku tatap lekat mata jernihnya. Bulu matanya yang lentik dan lebat. Hidungnya begitu mancung. Aku menyukainya. Wajah putihnya yang bersih.

Adikku telah siap untuk mengaji. Kopiah hijau dikepala dan kain sarung yang ia ikatkan dipinggang. Sama seperti teman-temanku dipondok dulu. Mereka selalu memakai sarung dan baju koko lengkap dengan kopiah saat mengaji dan shalat berjama’ah. Nuansa Islami yang sangat menyentuh.
“Mau ngaji bareng adek?”jawabku dengan senyum tipis. Walaupun hanya belajar bersama adik-adik dirumah aku selalu berusaha tetap rapi. Seperti saat aku berangkat kuliah.

Aku hanya belajar mengamalkan ilmu yang aku peroleh dari ibu Septi, penemu Jarimatika dalam sebuah seminar Juli lalu. Padahal dia hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kesehariannya disibukkan untuk mengurus anak dan suami. Namun, ternyata ia berhasil menemukan cara berhitung mudah yang sangat bermanfaat. Jarimatika. Cara berhitung mudah matematika dengan menggunakan jari-jari tangan. Itu semua karena kegigihan dan kesungguhannya dalam mendidik sang buah hati.

Aku meraih tangannya dan mengajaknya ke Mushala. Sebuah ruangan berukuran 4x3 meter. Khusus untuk shalat dan mengaji. Diruangan itu aku mengambil sebuah Iqra’ di atas tumpukan buku dalam lemari. Deretan buku menghiasi isi lemari. Memikat setiap mata pecinta buku. Buku apa yang Anda cari? Insyaallah dapat Anda temukan di lemari ini. Disampingnya beberapa tas berderet. Ada empat buah semua berwarna pink. Hanya satu yang berwarna hitam. Dengan gambar spiderman. Sedangkan setumpuk sajadah ada di sudut ruang di temani tiga buah meja kecil. Tirai putih menutupi jendela. Ruangan itu lengkap dengan sebuah kipas angin yang tak pernah berhenti berputar saat kami shalat/mengaji dan lampu philip yang selalu siap menerangi. Kami memulai mengaji. Diawali dengan membaca do’a dan surat Al-Fatihah.

A’udzubillahi minasyaithonirrajiim...............
Bibirnya memulai melantunkan bacaan-bacaan indah penuh makna. Mendengarnya, mengingatkanku akan suasana pondok tempat aku menimba ilmu.

Aku rindu dengan suasana pondok. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Shalawat Nabi sahabat-sahabatku. Riuhnya suara santri yang sedang menghafal Al-Qur’an dan Hadits di sepertiga malam hingga fajar menjelang. Aku rindu. Rindu dengan shalat malam berjama’ah. Dadaku bagai terhantam sebuah benda yang sangat padat. Rasa sakit yang amat sangat. Membuatku tersiksa dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Desiran aliran darah dijantungku. Mengalir begitu hebatnya. Aku merasakannya. Benar-benar merasakannya. Bayangan wanita berkerudung putih berkelebat dibenakku. Wajah Omi sahabatku. Tempatku berbagi semua kepiluan dan kebahagiaan yang mendera.
Setiap tahun pondokku selalu dilanda banjir. Hujan deras selama berhari-hari. Suaranya yang terjatuh di atas atap seng tua bagaikan lantunan melodi yang mengalir indah. Menenangkan hati-hati yang terlelap. Yah....Atap itu telah usang. Warna kuning tua di balut noda-noda hitam di setiap sisinya.

Hujan itu. Ia enggan berhenti. Begitu cintakah ia dengan pondokku sampai-sampai tak mau berpisah. Rela bertahan selama berhari-hari. Akhirnya, air hujan meluap menggenang pondokku tercinta. Hanya tersisa beberapa centimeter saja. Seluruh santri putra terpaksa harus tinggal di lantai dua gedung baru yang belum kunjung selesai di bangun. Ia telah berdiri kokoh. Tapi aku tak tau kapan ia akan sempurna. Seperti gedung-gedung yang kulihat didepan pasar inpres. Gedung menjulang keangkasa. Tempat para pejabat bersembunyi menjalankan aktifitasnya. Apa yang mereka lakukan bukanlah urusanku.

Mungkin orang islam dikotaku miskin banget atau kikir banget. Atau dan atau… terserah aku gak tau terlalu banyak “atau” yang ada dibenakku. Saat senja setelah les Bahasa Arab dengan Ustadz Ali Mansyuran, bersama sahabatku Omi, aku terpaku menatap air banjir yang melimpah ruah seperti air bah. Ia telah berhasil menenggelamkan bunga-bunga ibu nyai ditaman. Ibu nyai itu panggilan untuk istri pimpinan pondok. Yang sering membangunkan kami di kala kami masih terlelap tidur.

Tapi tidak demikian denganku dan beberapa temanku satu angkatan. Kami sering bangun awal. Walaupun tidak setiap hari. Kami juga malu kalau harus dibangunkan setiap hari. Waktu kami hanya tinggal hitungan bulan. Masa-masa cemas mempersiapkan Ujian Nasional. Bagaimana mungkin kami bisa tidur nyenyak. Bayangan tidak lulus. Sungguh sangat memalukan. Apa kata orang kampung. Sekolah, tinggal di pondok yang setiap harinya di jejali berbagai macam ilmu gak lulus UN. Itulah komitmen kami. Walaupun keberhasilan tidak ditentukan oleh aspek kognitif saja. Tapi bukan berarti kami harus bermalas malasan. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa ia berusaha untuk merubahnya. Dan ucapan Ustadz Ali mansyuran yang ia peroleh dari Ustadz Sutardi. Seorang Ustadz baru lulusan UGM yang mengatakan bahwa orang Amerika apabila memiliki waktu setahun untuk menebang sebuah pohon maka ia akan mempersiapkannya setengah tahun sebelumnya. Jadi kami harus sungguh-sungguh.

Hujan itu masih berkejar-kejaran diudara terjatuh dan memedar. Percikannya mengena lembut diwajahku. Hamparan air tak berujung. Gelombang kecil berlarian. Berbaris beriringan. Menyapu rumah-rumah diujung jalan, kini hanya atap yang tersisa. Kayu-kayu itu bagai kapal di samudra luas. Melenggok dan terus meliuk berputar mengikuti arus.

Dua hari yang lalu, sebelum pasang para santri putra membuat jembatan yang menghubungkan sekolah dengan gedung berlantai dua. Bersama para ustadz. Lagi-lagi ustadz dipondokku masih perjaka semua. Mereka tertawa terbahak. Tidak dapat dibedakan antara ustadz dan santri. Membaur menjadi satu. Seakan bahagia dengan datangnya banjir. Berlari. Memikul kayu. Memasang satu persatu hingga sebuah jembatan idaman terwujud. Walau tidak semewah jembatan kapuas.
“Kak…” demikian ia memanggilku.
“Habis buat jembatan mereka mandi gak ya? Kan gak ada air. Di asrama putri airnya macet. Pasti diasrama putra juga.”ucapnya.
“ Ya... gak tau sih. Tapi kalau memang mereka gak mandi gak apa-apa. Toh sedari tadi mereka berkecimpung dengan air.” Jawabku ringan.

Mungkin mereka sehari sekali mandi. Atau jangan-jangan tidak mandi selama banjir. Hanya sesekali saja. Pemandangan yang sangat mengerikan. Karena biasanya kalau banjir air ledeng hidup segan matipun tak mau. Kalau ledeng ngalir yang menjadi prioritas adalah santri putri. Yang putra terpaksa mengungsi. Aku berdiri, kuajak sahabatku menuju asrama santri putri. Kilatan lantai di ujung pintu rumah ibu nyai. Begitu lengket. Bagai bertahun tak pernah digosok. Bukan karena jorok atau malas. Setiap hari santri putri mendapat giliran buat ngepel. Tapi berjuta kaki melewati, setiap detik waktu yang kami miliki. Keluar masuk asrama. Tidak hanya saat jam-jam sekolah tapi juga sehabis diniyah. Banjir. Begitulah. Hanya satu-satunya pintu alternative sebagai mobilitas para santri putri. Sekolah dan asrama.

Sekolah kami di pelupuk mata. 15 menit waktu istirahat bisa kami gunakan untuk berbaring atau shalat sunnah dhuha di kamar. Semula pak kyai mewajibkan seluruh santrinya untuk sembahyang dhuha tiap hari. Tapi namanya juga manusia. Dengan beragam kepala. Hanya berjalan dua minggu. Itu saja udah untung.

Kurebahkan tubuhku dilantai tanpa kasur. Dingin menembus hingga ke sum-sum tulangku. Dikamar ini aku bersama kedua temanku. Omi dan Fadhillah. Menghabiskan malam-malam kami menyantap buku-buku pelajaran dan diniyah. Di temani sebungkus indomie, hembusan angin malam yang berbisik di telinga kami menyapa penuh ramah dan senyum yang indah dan cahaya bulan yang menerobos melewati ventilasi. Kadang kami sengaja membuka pintu kamar walau dingin menyergap. Remang cahaya lampu kamar. Hingga mata kami tak lagi mampu bertahan. Terkadang perutku mau muntah saja melihat tumpukan buku di sudut lemari. Bukan kemauan lagi tapi suatu keharusan. Hal yang wajib untuk dikerjakan.

Dibelakang Asrama putri hanya ditutup rapat dengan pagar. Itupun seadanya. Bukan tembok yang terbuat dari beton. Tidak beratap. Kadang aku merasa tinggal di hutan saja. Karena tepat dibelakang asrama ada sebuah hutan kecil. Tanah gambut bekas orang menanam padi. Tempat biasa teman sekelasku melepaskan sapi-sapinya dan mengikatkan talinya disalah satu tunggul.

Kuistirahatkan otakku yang sedari aku membuka mata belum berhenti bekerja. Kasihan dia. Kututup kedua kelopak mataku. menunggu kumandang adzan maghrib. Suara derap langkah mulai terdengar. Sayup-sayup suara lantunan shalawat nabi. Para santri dikamar lima. Suaranya mendayu merdu. Seperti tenangnya air yang mengalir. Menyirami jiwa-jiwa nan gersang. Duh Rasul. Betapa rindu diri ini tuk berjumpa denganmu. Jiwaku yang kotor ini sudikah Engkau untuk menerimaku sebagai umatmu. Air mataku menetes. Aku berdiri. Berjalan. Membawa tubuhku yang masih sempoyongan.

Di depan pintu kamar, riuhnya suara air keran yang tak berhenti mengalir. Menetes perlahan. Satu-persatu. Antrian panjang. Semua harus bersabar. Ada yang masih duduk ditangga sambil membaca kitab dan ada juga yang asyik mengobrol. Hanya tawa renyahnya yang dapat kudengar.
“Kak ngambil buka yuk?” ajak fadhillah. Aku mengiyakannya dengan anggukan kepala. Bertiga melangkah bersama mengambil semangkuk bubur kacang hijau. Didapur beberapa santri telah antri. Ya…di pondok semua serba antri. Layaknya digedung bioskop saja.
“Aku lemes banget lho…”ucapku lemah sesampai dikamar. Tidak seperti hari biasa. Hari itu fisiku kurang sehat.
“Ngambil air wudhu dulu. Biar lebih seger.” Saran Omi. Aku menuruti sarannya. Dengan penuh kesabaran. Badanku yang semakin gemetaran tak kuat lagi untuk berdiri. Begitu sulitkah untuk mencapai syurga.

Di lorong menuju kamar sebuah barisan santri sehabis mengambil jatah buka puasanya. Wajah mereka tak sekusut wajahku. Aku malu menampakan wajahku. Aku menunduk. Seluruh teman satu angkatan berkumpul berbuka bersama di kamarku. Temanku Halimah. Bacaan Al-Qur’annya paling fashih. Dia memimpin do’a.

Semua larut dalam kekusyu’an. Berbuka bersama dengan makanan seadanya. Semua adalah sahabat dan keluarga. Seusai berbuka kami shalat berjama’ah. Berbaur dengan santri yang lain. Pak kyai menjadi imam. Kalau imamnya beliau tak ada suara. Semua diam. Gak tau khusyuk gak sih shalatnya. Tapi kalau pak kyai gak ada. Hidup ini bagai burung tanpa sangkarnya. Bebas terbang kemanapun yang kita mau. Tapi tetap pada rambu-rambu yang ada.

Dua tahun yang lalu. Saat aku masih di pondok. Dua tahun yang lalu tentu berbeda dengan hari ini. Aku tidak tau seperti apa pondokku kini. Apa kabarnya. Hanya fisik indahnya yang dapat kulihat dari sebrang sungai kapuas yang membentang memisahkanku dengannya. Hanya rasa rindu yang terus menghantuiku.
“Kak ina nangiskah ?“tanya Opal menyadarkanku.
“Gak kok dek…”ku usap airmataku di sudut mata. Kembali aku menatap jari-jari mungil yang menari-nari bebas di Iqra’. Matanya menyipit. Keningnya berkerut. Wajah riangnya saat bermain berubah sekejap dalam keseriusan.
“Kakak capek…” ia memelas. Aku melihat semangatnya untuk belajar membaca Al-Qur’an walaupun usianya masih sangat belia. Setiap hari setelah maghrib ia selalu siap untuk mengaji.
“Ya udah…. Istirahat dulu. Tapi jangan lupa baca wal ashri dulu ya…”pintaku. Ia menganggukkan kepala pertanda setuju. Ia berlari keluar. Masuk kekamar umi.

Kuletakan kembali Iqra’ pada tempatnya. Lantunan suara adzan Isya dari mushala di belakang rumah memanggil mengingatkan seluruh umat manusia untuk berjumpa dengan sang khalik. Saat terindah dalam hidup ini tuk bersua dengan kekasihnya. Ku perbarui wudhuku. Walaupun aku belum batal. Aku akan melaksanakan shalat Isya. Tanpa ibu nyai, Omi, Fadhillah dan teman-teman yang lain. Dan juga tanpa pak kyai sebagai imam.

Sahabat di Tahun Baru

Aku selalu menghabiskan malam tahun baruku bersama keluarga. Melaksanakan shalat sunnah tasbih tepat pukul 00:00 disambung membaca surat Yasiin dan berdo’a memohon kebaikan.

Namun, malam ini aku merayakan malam tahun baru di sebuah bis menuju kota tempat aku menimba ilmu. Aku hanya membaca surat Yasiin satu kali dan mengucapkan sebuah permohonan. Tahun baru ini aku harus lebih baik. Dalam segala hal.

Gelap. Saat aku membaca ayat ketiga terakhir surat Yasiin. Bis akan segera kembali menempuh perjalanan. Aku melirik seseorang yang duduk di sampingku.
“Sepertinya boleh juga. Cahaya hapenya cukup terang” pikirku dalam hati.
Aku memberanikan diri memintanya untuk mengarahkan sinar hapenya pada Al-Qur’an. Tanpa basa-basi ia mengiyakan. Aku hanya membaca ayat ketiga sedangkan ayat dua terakhir aku sudah hapal jadi tidak terlalu sulit.
“Shalatnya gak pernah ditinggalkan?” tanyanya tiba-tiba.
“Insyaallah.” Jawabku santai.

Dia duduk disampingku sejak aku naik bis. Aku tidak tau seperti apa wajahnya. Apakah ia tampan atau biasa aja. Hanya sekilas saat aku baru masuk dan menanyakan nomor kursi 4D. Aku sengaja tidak memperhatikan wajahnya. Apakah ia sosok sempurna seorang laki-laki yang sering dibicarakan oleh sahabat-sahabatku di kampus atau….

Yah…hanya mendengarkan setiap perkataan yang mengalir. Aku tidak berani memperhatikannya terus menerus. Aku takut aku akan selalu teringat wajahnya dan memujinya sampai terbawa dalam tidurku dan merasuki mimpi malamku. Hingga akhirnya mengusik hatiku.

Mungkin kalau aku ketemu dia lagi aku gak bakal nyapa kalau dia gak nyapa aku. Aku benar-benar gak tau wajahnya kayak apa. Hanya kulit putih bersihnya yang masih ada dalam ingatanku.

Steven panggilannya. Seorang Konghuchu yang talkaktif. Sepanjang perjalanan kami menikmati malam tahun baru. Semua kota-kota yang kami lewati. Sekadau, Sanggau, Singkawang, Ngabang….

Jalanan sempat macet, di penuhi muda-mudi merayakan tahun baru. Mereka memilih menyambut tahun baru dengan pawai bersama, bernyanyi, nonton band, bikin api unggun, …. Suasana yang jarang aku temui pada hari-hari biasa.
“Hey…lihat!!!” ia membuka tirai jendela.

Percikan kembang api diangkasa. Ia bertaburan. Jauh disana bintang-bintang bersinar terang. Turut menyambut tahun baru. Dan cahaya rembulan yang keemasan.
“Steve malam tahun baru biasanya ngapain?” tanyaku kemudian.
“Kumpul-kumpul ama keluarga ato jalan sama teman-teman”
“ Ada gak ibadah khusus sebagai ritual penyambutan tahun baru?”
“Gak ada tuch. Kenapa?” Aku lalu menjelaskan kebiasaan keluargaku di setiap malam tahun baru. Baik tahun baru Masehi ataupun Hijriyah.

Udara AC begitu dingin. Untung aku membawa sweater putih yang selalu menemani perjalananku. Aku mengangkat kedua kakiku keatas kursi.
“Dingin ya?” Ia menyergah. Menyalipkan kedua tangannya di depan dada. Memalingkan wajahnya kearahku.
“Iya.” Kututup kedua kakiku dengan sweater. Aku melihatnya dalam gelap. “Eh…duduknya geser sikit lah. Nanti kamu jatuh. Masih luas kok.”
Ia memintaku untuk duduk mendekat. Setelah memperhatikan posisi dudukku yang sedari masuk menjaga jarak dengannya. Aku menolaknya.
“Memangnya kenapa? Lagian aku kan gak ngapa-ngapain kamu. Cuma duduk berdekatan. Aku juga kedinginan.”
“Ye… tapi aku kan gak mau. Ya gak mungkin lah aku jatuh. Toh kalau jatuh juga gak apa-apa. Gak curam kayak jurang. Cuma beberapa senti aja gak nyampe setengah meter apalagi semeter.” Jawabku dingin.
“Kenapa? Mang gak boleh? Ya… kalau tau kamu gak mau duduk deket aku mendingan aku duduk sama orang gemuk sekalian jadi aku gak kedinginan. Atau aku duduk sendirian. Tapi kalau aku duduk sendirian gak ada teman ngobrol.”
Ia mengoceh sendirian.
“Sebenarnya sebelum kamu masuk aku sempat mikir coba aku gak duduk sendirian supaya ada teman ngobrol. Kan gak bete. Tahunya waktu kamu masuk langsung nanya. Aku juga gak tau kalau nomor kursi ini 4D. Aku asal duduk aja, tadi kursinya kan kosong. Tapi aku jawab ia saat kamu tanya. Yaaah…daripada aku duduk sendirian. Eh sekarang kamu malah menjaga jarak. Aku tetep aja kedinginan. Bedanya aku punya teman ngobrol he…he….” Lanjutnya panjang lebar.
“Geser dunk… Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu. Mau kan ?”
“Mau. Kalau kamu ayahku. Kalau kamu suamiku. Atau abangku. Atau adekku. Tapi kamu hanya sahabatku. Sahabat yang baru kukenal di malam tahun baru ini. Tidak lebih daripada itu. Malam ini kita masih bisa tertawa and ngobrol bareng tapi esok, lusa, dan waktu nanti, siapa tau. Akh…aku tidak suka berandai-andai. Aku seorang yang realistis.” Jawabku dalam hati.
Aku pun berkata “Aku sudah bilang aku gak mau. It’s OK kan .”
“Orang tuaku melarangku untuk melakukan hal itu. Aku orang jawa. Banyak hal yang harus aku patuhi dalam pergaulan. Terutama bergaul dengan laki-laki yang baru aku kenal. Kayak kamu.”
Aku menunjukan jari telunjukku kearahnya.
“Selain itu aku seorang muslim. Dalam agamaku juga ada aturan dalam bergaul. Gak boleh semau kita. Apalagi aturan yang memang harus dipatuhi. Mang dalam agamamu gak ada?’
“Gak ada tuh. Aku belum pernah dengar” Aku gak tau ia berkata jujur atau hanya pura-pura memancingku.
“Gak ada ato kamu belum pernah belajar?”
“Iya deh terserah kamu. Kalau gitu jelasin dunk. Peraturan seperti apa yang kamu maksud biar aku tau dan gak melanggar peraturan itu. He…he…”
“Serius ato ngeledek nich….”
“Serius. Ehm…sedikit ngeledek sih biar suasananya agak cair. Tapi bener kan sesama umat beragama harus saling menghormati. Toleransi gitu…”
“Jadi…jelasin dunk jangan buat penasaran.” Aku memalingkan pandangan keluar jendela.

Jalanan sepi kini. Disekeliling hutan. Pepohonan berbaris rapi seolah berlari mengejar bis yang terus melaju dengan kecepatan datar. Aku tidak tau sampai di mana tepatnya. Ku tarik nafas panjang sambil memperbaiki posisi dudukku. Kumajukan tubuhku kedepan.
“Ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi “dan janganlah mendekati zinnah. Dan…”
“Zinnah itu apa?” ia memotong pembicaraanku.
“Masuknya hasafah ke farji seorang wanita yang bukan haknya. Hasafah itu…” aku jadi sedikit malu untuk menjelaskannya. Namun, demi kebaikan dan biar ga ada su’udzan di antara kami akupun menjelaskan satu persatu.
“Hubungan suami isteri maksud kamu??Ya ampun Nuri, kok sampe segitunya sich…” Belum selesai ia ngomong aku segera memotongnya.
“Sst…kayaknya harus aku ulang. Aku tau kamu gak bakalan ngapa-ngapain aku. Tapi kamu masih ingat kan ? Dan janganlah mendekati zinnah. Itu artinya kita harus menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kita bisa melakukan hal itu?” Jelasku.

Ia menganggukan kepalanya perlahan. Semoga ia sudah sedikit paham.
“Jadi….walaupun kita duduk berdekatan itu sebaiknya gak usah karena khawatir akan menimbulkan zinnah. Gitu maksud kamu?” ia mengernyitkan dahinya dan memandangku penuh tanya.
“Ia. Tepat sekali.” “Ehm… aku tau sekarang mengapa banyak gadis berjilbab terutama mereka yang memakai jilbab lebar. Yang biasa teman-temanku memanggilnya Jilbaber selalu menjaga pergaulan dengan teman-temannya yang laki-laki. Kayak temanku yang satu kampus denganku. Siang itu ia pulang sendiri jalan kaki memasuki sebuah komplek yang sebenarnya satu komplek denganku. Tapi dia menolak saat aku tawari untuk duduk di belakang jok motorku. Ya menolak naik satu motor denganku. Hanya saja dia belum memberikan penjelasan padaku mengapa dia menolaknya. Kalau di fikir-fikir kan mending naik motor sama aku dari pada jalan sendirian dibawah terik sinar matahari yang menyala tajam. Tapi ternyata… ”

Kami terdiam. Menyelami samudera hati yang paling dalam. Mencoba untuk saling mengerti dan menerima perbedaan di antara kami.
“Ya udah kalo gitu. Makasih ya udah ngasih pemahaman sama aku. Paling tidak malam ini aku mendapatkan ilmu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.sebagai bekal dalam bergaul. Bergaul dengan orang seperti kamu. Hee…” Steve tersenyum tipis.

Mungkin senyumnya sangat indah. Seindah bintang-bintang yang bertaburan diangkasa malam ini.
“Ia. Thanks juga kamu udah ngertiin aku dan semoga yang kita diskusikan tadi ada manfaatnya buat kita. Sekarang dan juga nanti.” Aku membalas senyumnya.
“Tapi kita masih tetap bersahabat khan???”
“Insyaallah. Why not?????” Kami kembali terlarut dalam tawa.

Ia menyibakan tirai jendela. Di luar sana muda-mudi tertawa ria. Semua bahagia. Api unggun menyala membumbung ke angkasa. Melantunkan melodi cinta. Beberapa orang berseragam polisi berjaga. Terdengar suara sirene motor.
“Malam yang indah. Sampai dimana kita akan merajut persahabatan ini?” Tanyanya tiba-tiba.
“Sampai dimana engkau mau?” aku menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Sampai matahari tak bersinar. Dan hujan enggan turun ke bumi”
“Sungguh.”
“Really, I am serious. Trust me”
“Sejauh dunia tak berujung, sampai waktu tak lagi berdetak.” Tambahku.

Kamipun saling menukar nomor hape. Malam larut. Kami memejamkan mata. Menanti hari esok. Hari baru dengan berjuta bunga kehidupan.

Dua Bulan yang Lalu

Dua Bulan yang Lalu

Udara dingin membangunkanku. Pandangan yang masih kabur menangkap jam weker di atas meja kecil, tepat di sebelah kiri tempat tidur. Pukul 02.50 dini hari. Nyaris aku menarik selimut lagi, tapi aku teringat harus shalat malam. Kelopak mataku berat menatap temaram cahaya lampu. Sesaat aku hanya terdiam di atas spray berwarna biru muda dihiasi bunga-bunga cantik berwarna putih. Hatiku berdzikir perlahan, untuk mengumpulkan ketenangan. Walau sejuk, aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. "Ayo shalat, tunggu apa lagi. Semoga Allah menjadikanmu termasuk dalam golongan orang yang beruntung." Hati mendesak, meyakinkan kesadaran. Dengan seluruh kekuatan, aku berperang melawan malas.
Pintu kamar kubuka, dingin udara di luar sana langsung menyerbu. Merinding bulu kudukku. Apalagi air wudhu rasanya sedingin es. Jika tak mengingat surga yang mengalir di dalamnya, yang Engkau janjikan pada umat-umat-Mu tentu aku sudah melengkung dalam selimut itu sambil menikmati mimpi indah. Tapi kehidupan dunia hanya senda gurau, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Empat raka'at shalat sunnah tahajud berhasil kutunaikan dengan khusuk dan keikhlasan. Salam terucap istighfar sebanyak-banyaknya dan tasbih memuji keagungan Asma Alah. Aku hanya makhluk kecil yang berlumuran dosa dan nista. Sudah seharusnya aku memohon ampun kepada Allah. Kuluahkan semua yang ada dalam hati dan fikiran selama ini. Mataku masih tertuju pada dinding kamar berwarna putih. Ada rasa damai terpantul dari sana. Aku mengangkat kedua tangan memohon dan bermunajat kepada-Nya. “Ya Allah, milik-Mu-lah segala pujian, Engkaulah cahaya langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya. Engkaulah yang mengurus langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya. Engkaulah yang mengendalikan langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya. Engkau Tuhan yang haq dan janji-Mu haq (benar adanya), menjumpai-Mu adalah haq, surga itu haq, para nabi itu haq, Muhammad itu haq, dan kiamat itu haq. Oh Tuhan, kepada-Mu aku menyerahkan diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku bertengkar (dengan musuh), dan kepada-Mu aku menyerahkan hukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan, yang aku rahasiakan maupun yang aku kerjakan dengan terang-terangan, Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau.1) Airmataku mengalir deras membasahi kain putih yang selalu kupakai pada saat aku menemui-Nya. Aku teringat peristiwa dua bulan lalu.
***
Suara dering HP membuyarkan fikiran. Di layar bening di HP-ku tampak nama Rasyid memanggil. Malam ini ia akan datang ke kota ini untuk menyelesaikan tugas akhir S2-nya. Untuk sementara waktu ia tinggal di rumah kontrakan yang sama, dia menyewa kamar di samping bilikku. Kami berkenalan enam bulan lalu, sejak itu kami bersahabat. Walau hanya sebulan sekali bertemu, namun hubungan cukup dekat. Komunikasi selalu terjalin. SMS-an hampir tiap hari. Dia telah menganggapku sebagai adik. Aku sebaliknya. Sekarang setiap hari kami bertemu. Kedatangannya ke kota ini untuk minta bantuanku menyelesaikan tesisnya yang dalam proses penyelesaian. Ditambah lagi jarak kamar yang hanya beberapa langkah saja. Canda dan tawa menghiasi hari-hari saat-saat diskusi.
***
Rembulan semburat. Sinarnya yang mewah melimpah, menyepuh dedaunan hingga bumi terlihat seperti bayangan. Saat pulang, Rasyid tiba-tiba menghentikan sepeda motor dan mematikan mesinnya di tepi jalan. Aku menatap wajah itu dalam keremangan. "Rasyid, kenapa berhenti?" tanyaku sambil turun dari motor. Dia diam. Sorot wajahnya yang tajam membuatku tak berdaya ketika dia meraih tanganku. Aku seperti terserang demam tiba-tiba. Perasaan bercampur aduk membuatku hanya bisa menundukkan kepala. Tubuhku gemetar, jantung berdegup, cemas menyelimuti. Ya Allah.... "Aisha, aku tau agama melarang kita berduaan di tempat sunyi begini. Apalagi kita bukan muhrim." Aku ingin mengatakan sesuatu tapi rahangku seakan terkunci. "Aku ingin kau selalu di sampingku, aku merindukanmu." Oh Tuhan…, aku kehilangan kendali untuk membendung air mata. "Jangan menangis Aisha. Aku mencintaimu, aku menyayangimu Aisha" ungkapnya dengan penuh kesungguhan. Aku lunglai, tersihir! Wajahnya semakin dekat. Tetapi aku bagaikan patung batu, tak bergeming sedikit pun ketika bibir kami bersatu. Aku hampir pingsan saat itu. Aku teringat akan firman-Nya. " Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh satu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk." "Tidak. Jangan lakukan itu padaku." Dia pun seperti tersadar dan minta maaf. Aku tak mampu melukiskan perasaan saat itu, aku mengajaknya pulang. Di rumah air mataku tumpah seperti air bah. Tiba-tiba HP-ku berdering. Rasyid menelepon. “Aisha maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi lagi,” ucapnya lemah. Seperti ada sesuatu yang hilang dari suaranya. Aku hanya terdiam sambil menahan suara tangis. “Jangan menangis Aisha. Aku mohon padamu.” “Aku sangat mencintaimu Rasyid, lebih dari semua yang kumiliki. Rasa cinta yang telah mendarah daging dan berakar dalam hatiku. Ia telah menjalar ke seluruh sel dalam tubuhku. Membuangnya sama saja dengan membunuhku. Aku akan binasa.” Aku terdiam sesaat. “Tapi aku sadar, aku tidak akan mungkin memilikimu. Karena dia. Dia yang lebih berhak daripada diriku. Apa dengan ini semua akan menjadikan segalanya lebih baik.” Kumatikan HP tanpa menunggu jawaban darinya. Berulang kali ia mencoba menghubungiku. Setiap hari setelah kejadian itu. Namun aku tidak pernah mengangkatnya. Walau sebenarnya aku sangat merindukannya. Kuputuskan menjauh darinya. Aku harus kembali ke jalan yang benar. Jalan yang di ridhai dan di rahmati Allah. Hingga aku mampu meraih cinta-Nya. Cinta yang sesungguhnya dalam kehidupan ini. Cinta sejati hingga akhir nanti. Walaupun aku harus menelan empedu. Menahan perih sayatan sembilu. Mengorbankan seluruh rasa dalam hati. Rasa rindu dan sayang yang menyiksa. Aku yakin, aku yakin atas segala kekuasaan-Nya dan Janji-janji-Nya.