Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan

Senin, April 13

Ibu

Catatan penuh ini kan menjadi catatan khusus untuk ibu aku. Ibu yang tinggal jauh dari sisi aku. Jauh dari tatapan mata aku. Tapi sangat dekat dengan hati dan jiwa aku. Merindukan hadirnya di setiap detik waktu dalam hidupku. Menantikan hadirnya di setiap mimpi indah aku dan bersamanya untuk selamanya....

Rabu, Desember 10

Malam itu

Malam itu. Badanku terus menggigil. Entah berapa lapis selimut yang kupakai. Belum lagi tumpukan bantal yang turut menyelimuti. Obat dari dokter telah habis ku minum. Namun, belum ada perubahan yang berarti.

Ya Allah, berilah aku kesembuhan atas penyakitku ini. KKN tiga hari lagi, namun penyakit yang bersarang di tubuhku tak kunjung sembuh. Badanku terus menggigil, tambahan lagi pilek dan batuk menyusul bertubi-tubi. Juga cuaca yang kurang bersahabat dengan kesehatanku. Sudah tiga hari tenggorokan aku serak. Akibatnya suara gak jelas. Bahkan setiap malam aku gak bisa ngomong.

Akhirnya aku berangkat juga KKN.
“Hati-hati, Kar. Jaga kesehatan. Aku gak mau kamu sakit di sana. Dan jangan lupa sama aku ya...” Pesan Udin sore itu saat aku mau berangkat KKN. Aku hanya membalas dengan seulas senyum.

***

Sudah setahun aku mengenal Udin. Tapi hubungan kami putus begitu saja karena kami berbeda Universitas. Kami satu angkatan di pengkaderan PMII. Maret 2007 lalu di Kota Singkawang. Aku satu kelompok dengannya. Kami cukup akrab saat itu. Hanya selama tiga hari dua malam. Kami harus berpisah karena waktu jua.

Juni 2008 ini, aku satu kepanitian dengannya. Pelatihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKD PMII). Posisinya sebagai ketua dan aku sekretaris membuat kami kembali dekat. Kembali mengalami suka cita. Tambahan lagi saat itu kondisi PMII gonjang-ganjing. Kami saling berbagi. Kendala yang kami alami. Terutama masalah dana dan peserta.

Aku gak akan pernah melupakan perjuangan kami demi terlaksananya kegiatan ini dengan baik. Cucuran keringat dan airmata. Kami berjuang siang dan malam.
Seperti sore itu. Seusai kuliah Udin menjemputku…..

Hal itulah yang membuat kami semakin dekat walaupun kegiatan telah usai. Dia selalu siap membantuku saat aku membutuhkan pertolongan. He is very kind. Aku suka dengannya. Namun demikian, hanya sebatas sahabat. Karena aku tak bisa memberi lebih.

***

Angin dingin semilir di malam hari. Badanku terus menggigil. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa merintih dalam hati. Sms yang datang dari sahabatku diseberang sana membuatku lebih tenang. Hatiku gak merasa sendiri.

Kapal yang aku tumpangi berisi 117 orang. Kata temanku kapal itu bernama palung. Bukan kapal tapi motor air. Ditengah-tengah kapal ada sebuah mesin besar yang tak henti berbunyi dan dua buah drum biru.sepertinya untuk menampung air. Aku tak tahu air apa itu. Di setiap tepi ada bangku panjang. Tempat kami duduk. Sedangkan tengahnya dibiarkan kosong. Namun kini telah penuh dengan barang-barang bawaan kami. Bangku-bangku di tepi juga penuh. Bagian tengah yang sedikit kosong terhampar tikar. Mereka tidur-tiduran atau bermain kartu.

Aku memilih duduk dibangku. Sedangkan barang-barangku tergabung dalam kelompok. Aku tak terlalu memikirkannya. Hanya sesekali mengecek. Seperti pesan seniorku jangan terbiasa mengandalkan orang lain. Kita yang akan susah kalo sampai milik kita tertinggal atau hilang.

Dibagian luar sisi-sisi palung juga terdapat tempat untuk duduk. Bentuknya sama dengan yang didalam. Tempat ini juga terisi penuh oleh teman-temanku yang ingin melihat sunset. Laki-laki dan perempuan.

Yaah… seisi kapal ini adalah teman-temanku seangkatan di bangku kuliah. Satu Fakultas yang berbeda jurusan dan program studi. Tapi hatiku sepi, padahal aku juga berbincang dengan mereka. Tertawa, bercanda, dan ada beberapa yang mengolokku karena suara aku yang gak jelas banget. Gak jarang aku harus menuliskan dengan selembar kertas.

Semakin larut aku semakin gak bisa tidur. Malam semakin dingin. Semburat rembulan di atas sana masuk dalam palung. Karna palung ini tak berdinding. .

Pukul 3 dini hari kapal sampai di pelabuhan. Kubuka kedua kelopak mataku. Aku merasakan kantuk yang amat sangat. Tapi waktu tidurku udah habis. Karena kami harus segera turun dan menuju desa tujuan masing-masing.

Teluk Batang Kota. Desa tujuan kelompok kami. Melewati jalan rusak dan sangat becek untuk keluar pelabuhan. Dengan sebuah pick up yang mengangkut kami bergantian. Entah berapa kali. Jumlah kami yang 117 orang di tambah lagi barang-barang kami yang melimpah.

Kondisi tubuhku semakin lemah, akhirnya teman-temanku menyarankan agar aku naik duluan di depan di temani Tia, teman satu kelompok denganku. Setiba di rumah dinas camat Teluk Batang. Aku langsung meminta izin untuk mengambil wudhu dan membersihkan tubuhku. Walaupun gak sampai mandi. Teman-teman lain datang menyusul.

Tanpa basi-basi seorang laki-laki yang tadi membukakan pintu dan menyambut kehadiran kami memintaku membuatkan teh dan kopi hangat untuk teman-teman. Aku ditemani Siti Komariah dari prodi Ekonomi membuat air teh dan kopi masing-masing satu teko.

“Untuk yang Teluk Batang Kota dan Teluk Batang Selatan tinggal di rumah dinas. Tepatnya dibelakang kantor camat.” Ucap dosen pembimbing lapangan kami, Nadeak.

Aku dan teman-teman satu kelompok tersenyum puas. Karena kami sudah sampai tujuan. Demikian juga teman-teman dari selatan.

awalnya

Saat aku KKM Juli-Agustus lalu aku mendapatkan semua-tugas, keluarga, sahabat, dan juga cinta (he..he.. cinta dari mereka semua. Karena mereka sangat menyayangi dan juga mencintaiku). Waktu yang di beri seakan gak cukup buat aku. Karena banyak hal yang belum aku lakukan dan aku dapatkan. Aku belum mengamalkan ilmu yang aku dapatkan selama di bangku kuliah dan juga di organisasi.

Di hari pertama Kami harus bekerja keras untuk mendapatkan warga desa yang masih buta aksara di bantu aparat desa. Sesuai program Fakultas, pemberantasan buta aksara yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kalbar. That’s why kedatangan aku dan teman-teman yang semula sangat asing menjadi begitu akrab dengan warga di Teluk Batang Kota-desa aku KKN. Aku hampir mengenal semua daerah di sini termasuk juga warga desa. Bisa jadi juga karna sikapku yang kadang sok kenal.

Di minggu kedua aku udah mulai ngajar. Aku dapat jatah di Dusun Karya Makmur. WB (warga belajar) aku ada 10 orang. Semuanya perempuan yang sudah berumah tangga. Eits, ada seorang yang belum nikah, Mak Uning. Aku akan menuliskannya nanti. Mereka adalah Mak Enda, Mak Oteh, Mak Yang, Mak Uning, Mak Yong, Mak Sapah, Mak Predah, Bu Ani, Mak Unggal dan kak .

Aku mengajar tiga kali seminggu - tak jarang pula empat kali seminggu. Tempat kami belajar di rumah Mak Enda. Tepatnya di ruang tamu. Setiap hari sebelum memulai pelajaran aku dan para Mak mengobrol dengan topic bervariasi. Tapi lebih suka jadi pendengar. Hanya sesekali menyelipkan sebuah gurauan. Aku masih sulit memahami bahasa yang mereka gunakan. Bahasa melayu Teluk Batang yang sedikit banyak mirip dengan Bahasa Melayu Ketapang.

Sambil menunggu yang lain, aku memasangkan papan tulis. Terbuat dari karton yang di bungkus plastih putih. Jadi bisa di pake berkali-kali. Kegiatan belajar di mulai.

Sabtu, November 29

Rumah Itu


Salah satu rumah warga di Dusun Muara Karya, desa Teluk Batang Kota. Desa aku KKM Juli-Agustus lalu. Tidak hanya satu. Bahkan sangat banyak penduduk yang belum memiliki rumah layak huni. Sederetan rumah di sepanjang jalan menuju pelabuhan selalu membuatku terenyuh. Aku selalu meneteskan airmata saat melintas di jalan ini.
Rumah-rumah itu terbuat dari papan yang tidak pernah dicat. Sehingga warnanya terlihat kusam. Tambahan usianya yang tak lagi muda. Karena sang pemilik telah berpuluh tahun tinggal didalamnya. Sebenarnya kalau rumah tersebut di cat, aku pikir tidak akan sekusam itu. Seperti rumah orang tuaku di kampong. Yang juga sudah berpuluh tahun ditempati tapi karena bapak yang rajin mengecatnya setiap lebaran sehingga rumahku masih terlihat mentereng.
Rumah-rumah itu berlantai papan. Karena terletak di daerah rawa semua rumah di buat panggung. Antar rumah terhubung dengan jembatan papan. Kalau ada sepeda motor yang lewat maka suara mesin dan juga getar dari para papan akan terdengar sangat jelas. Suara yang memekakkan telinga.
Ironis memang, rumah-rumah itu dikelilingi oleh gedung-gedung menjulang tinggi. Gedung yang di huni oleh hewan yang menghasilkan uang jutaan rupiah. Gedung-gedung tersebut pasti bukan milik para penghuni rumah seperti foto itu. Tapi para investor yang menanamkan modalnya. Dan mereka bukanlah penduduk asli.